Senin, 19 Oktober 2015

Hari Pangan Sedunia


“Sudah, jangan dihabiskan.” Pernahkah Anda mendengar saran itu? Misalnya Anda sedang pergi makan  bersama dengan teman, lalu makanan yang Anda pesan rasanya tidak sesuai dengan selera Anda. Teman Anda menyarankan Anda untuk tidak menghabiskan makanan pesanan Anda itu. Bagaimana tanggapan Anda?

Barangkali ada yang kemudian tidak menghabiskan makanannya, karena memang sudah tidak tahan atau tidak mampu lagi untuk menghabiskannya. Namun mungkin ada juga yang masih berusaha untuk menghabiskannya perlahan-lahan, teringat nasihat orang tua: makanan tidak boleh dibuang-buang, makanan harus dihabiskan.

Pada sebagian budaya memang ada kebiasaan menyisakan makanan di piring, ada juga tradisi menyediakan makanan secara berlebihan saat jamuan. Katanya kalau makanan di piring habis, itu tandanya rakus. Kalau saat mengadakan jamuan dan makanannya tidak bersisa, maka tuan rumah akan kehilangan muka karena sajiannya kurang. Perlukah kita mempertahankan kebiasaan dan tradisi ini?

Pernah ada survei dilakukan untuk mengukur banyaknya sisa makanan dari rumah makan. Menurut FAO limbah makanan di dunia mencapai angka 1.3 miliar  yang mengakibatkan tambahan 3.3 miliar gas rumah kaca dan mengancam keselamatan atmosfer. Sungguh mengerikan ya! Padahal semuanya bermula hanya dari hal kecil, dari sisa makanan.

Bu Hadi, adalah seorang pemilik warung nasi. Kalau kita makan di warung Bu Hadi, kita boleh minta nasi tambahan secara gratis, tapi kita tidak boleh menyisakan nasi satu butir pun. Kalau ada sisa nasi yang tidak bisa dihabiskan, sisa nasi boleh dibungkus dan dibawa pulang. Yang penting, tidak boleh ada nasi yang terbuang. Apa alasan Bu Hadi melakukan hal ini? Ia menjawab, “Pak tani menanam padi sudah susah-susah dan lama. Pemali kalau kita membuang-buang nasi. Di tempat lain ada orang yang tidak punya makanan.”


Tanggal 16 Oktober adalah hari pangan sedunia (International Food Day). Berbagai insitusi dan organisasi dunia membicarakan solusi untuk membantu kecukupan pangan di berbagai daerah miskin di dunia. Bu Hadi dalam kapasitasnya sebagai pemilik warung nasi, secara tidak langsung sudah mengambil bagian, bagaimana dengan kita?

Potret Indonesia