Rabu, 21 Oktober 2015

Jalan-jalan ke Little India

Suasana lengang Little India di pagi hari.

Salah satu tujuan wisata populer di Singapura adalah daerah Little India. Sesuai namanya, Little India adalah pusat komunitas suku India di Singapura. Berada di daerah ini serasa tidak berada di kota modern Singapura. Mengapa?  Karena suasana lingkungannya khas, bernuansa budaya India yang kental.



Kios sayur di pinggir jalan.
Lihat foto di bawah ini, di kiri dan kanan jalan terdapat banyak toko yang menjual pakaian dan kain khas India, perhiasan emas, barang kelontong, sayur-mayur dan bumbunya, rangkaian bunga segar serta perlengkapan sembahyang. 

Jalan utama Serangoon Road. Selalu ramai dan sibuk setiap hari.
Kios penjual rangkaian bunga segar 
untuk sembahyang.
Seorang peramal nasib yang bekerja
dengan dibantu burungnya.
Anda mau belajar yoga? Di Little India ada banyak usaha menjual jasa kelas yoga dan tarian klasik India. Juga ada usaha salon kecantikan, penukaran uang, menjahit baju dan meramal nasib. Tentu saja, banyak juga orang pergi ke Little India karena ingin makan dosai dan chapatti.


Makanan khas India, poori, dosai dan jelebi.

Daerah Little India mencakup Kerbau Road, Buffalo Road, Race Course Road dan Serangoon Road. Nama-nama jalan ini ada sejarahnya. Dulu di Little India ada banyak peternakan kerbau dan juga tempat pacuan kuda. Anda tahu apa kepanjangan nama Rumah Sakit Ibu dan Anak KK Hospital? Ya, KK kepanjangannya adalah Kandang Kerbau yang artinya buffalo pen. Benar, lokasi awal rumah sakit ini memang di Little India. 

Jika Anda pergi ke Little India, jangan lupa berkunjung ke rumah-rumah ibadah yang ada di sana. Ada Kuil Sri Veeramakaliamman di Serangoon Road, mesjid Abdul Gafoor di Dunlop Street dan gereja tua Kampong Kapoor Methodist di Kampong Kapor Road. Sejarah dan arsitektur rumah-rumah ibadah ini menarik sekali.



Gereja Methodist Kampung Kapor.

Datanglah juga ke Little India ketika ada perayaan Hari Raya Deepavali, tahun baru umat Hindu, dan nikmati suasana festivalnya. Tahun ini perayaan Deepavali jatuh pada tanggal 10 November 2015. Anda juga bisa berpartisipasi dalam prosesi Thaipusam, perayaan memperingati bulan purnama Thai, dengan berjalan dari kuil Sri Srinivasa Perumal di Serangoon Road ke kuil Sri Thendayuthapani di Tank Road.


Prosesi cavadi berlangsung selama perayaan Thaipusam.

Little India memang daerah yang kaya nuansa budaya. Tidak heran banyak turis mancanegara suka pergi ke sana.





Senin, 19 Oktober 2015

Hari Pangan Sedunia


“Sudah, jangan dihabiskan.” Pernahkah Anda mendengar saran itu? Misalnya Anda sedang pergi makan  bersama dengan teman, lalu makanan yang Anda pesan rasanya tidak sesuai dengan selera Anda. Teman Anda menyarankan Anda untuk tidak menghabiskan makanan pesanan Anda itu. Bagaimana tanggapan Anda?

Barangkali ada yang kemudian tidak menghabiskan makanannya, karena memang sudah tidak tahan atau tidak mampu lagi untuk menghabiskannya. Namun mungkin ada juga yang masih berusaha untuk menghabiskannya perlahan-lahan, teringat nasihat orang tua: makanan tidak boleh dibuang-buang, makanan harus dihabiskan.

Pada sebagian budaya memang ada kebiasaan menyisakan makanan di piring, ada juga tradisi menyediakan makanan secara berlebihan saat jamuan. Katanya kalau makanan di piring habis, itu tandanya rakus. Kalau saat mengadakan jamuan dan makanannya tidak bersisa, maka tuan rumah akan kehilangan muka karena sajiannya kurang. Perlukah kita mempertahankan kebiasaan dan tradisi ini?

Pernah ada survei dilakukan untuk mengukur banyaknya sisa makanan dari rumah makan. Menurut FAO limbah makanan di dunia mencapai angka 1.3 miliar  yang mengakibatkan tambahan 3.3 miliar gas rumah kaca dan mengancam keselamatan atmosfer. Sungguh mengerikan ya! Padahal semuanya bermula hanya dari hal kecil, dari sisa makanan.

Bu Hadi, adalah seorang pemilik warung nasi. Kalau kita makan di warung Bu Hadi, kita boleh minta nasi tambahan secara gratis, tapi kita tidak boleh menyisakan nasi satu butir pun. Kalau ada sisa nasi yang tidak bisa dihabiskan, sisa nasi boleh dibungkus dan dibawa pulang. Yang penting, tidak boleh ada nasi yang terbuang. Apa alasan Bu Hadi melakukan hal ini? Ia menjawab, “Pak tani menanam padi sudah susah-susah dan lama. Pemali kalau kita membuang-buang nasi. Di tempat lain ada orang yang tidak punya makanan.”


Tanggal 16 Oktober adalah hari pangan sedunia (International Food Day). Berbagai insitusi dan organisasi dunia membicarakan solusi untuk membantu kecukupan pangan di berbagai daerah miskin di dunia. Bu Hadi dalam kapasitasnya sebagai pemilik warung nasi, secara tidak langsung sudah mengambil bagian, bagaimana dengan kita?

Sabtu, 10 Oktober 2015

Hari Anak di Singapura


Wajah ceria anak-anak memakai busana dari berbagai bangsa. (foto NSPS PSG)

Anak adalah harapan bangsa. Mereka yang akan menentukan masa depan bangsa. Itu sebabnya, banyak negara merayakan Hari Anak. Tujuannya supaya kita selalu ingat, arti penting anak untuk keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Hari Anak di Singapura jatuh pada hari Jumat pertama di bulan Oktober. Biasanya sekolah-sekolah Dasar (SD) akan membuat acara khusus untuk murid-muridnya. Ada konser oleh para guru, juga bermacam permainan dan pertandingan untuk murid. 

Murid sekolah asyik mencoba berbagai permainan di sekolah.
Para orang tua membawa anak mereka menikmati Hari Anak dengan pergi piknik, jalan-jalan, makan atau menonton film bersama.

Banyak toko misalnya toko buku, baju dan mainan anak-anak memberi diskon bertema Hari Anak. Beberapa perpustakaan mengadakan sesi dongeng untuk anak-anak. Acara ini gratis, tetapi peserta perlu mendaftarkan diri sebelumnya. Gedung konser Esplanade mengadakan lomba menggambar dan pertunjukan seni untuk anak-anak. Semua aktivitas ini bertujuan menghibur sekaligus mendidik anak. 

Sayang sekali, masih banyak anak di dunia yang hidup tidak bahagia. Mereka tidak bersekolah, malah harus bekerja. Banyak juga anak yang hidup dalam rasa takut karena lingkungan hidup tidak aman. Alangkah beruntungnya anak-anak di Singapura karena negara Singapura aman dan makmur. Bagaimana dengan nasib anak-anak di negara Anda?





Kamis, 08 Oktober 2015

Nanjing Road - Shanghai


Ini kota Shanghai. Bila turis datang ke Shanghai, mereka akan berkunjung ke kawasan Nanjing. Di pusat kota ini ada banyak toko-toko besar. Tidak semua orang yang datang ke sana akan berbelanja. Ada yang hanya berjalan-jalan atau berfoto.


Di sisi jalan yang lain, di antara gedung-gedung tinggi, kita dapat melihat banyak kios-kios di sepanjang jalan. Ayo kita lihat, mereka menjual apa saja?

Banyak kios menjual aneka macam baju, tas dan sepatu. Ada juga yang menjual makanan. Coba lihat ini, apa Anda tahu dia sedang apa?


Ya, betul. Dia sedang membuat gula-gula. Bentuknya besar dan unik. Dia sedang membuat gula-gula berbentuk wajah anak perempuan. Ada gula-gula lain berbentuk ikan, kipas dan lain-lain. Bagus, ya?


Dua bapak koki ini mungkin sedang dalam jam istirahat kerja. Mereka tidak sedang membeli atau mencoba makanan. Mereka sedang melihat-lihat batu. Seperti orang Indonesia yang senang mengoleksi batu akik, betul? Bentuk, warna dan jenis batunya bermacam-macam. Ada batu yang sudah dalam bentuk perhiasan, ada batu yang masih asli. Harganya juga bervariasi dari yang murah sampai yang mahal.

Anak-anak muda ini sedang mencoba hal lain. Seorang anak sedang memperhatikan seekor kalajengking di tangannya. Hiiiiii... apa Anda berani mencoba juga? Lihat! Ada binatang-binatang lainnya di dalam kotak-kotak di atas meja.


Di bagian lain ada juga orang yang menjual lampu-lampu antik. Barang-barang ini kelihatannya barang-barang impor dan pedagangnya juga kelihatan bukan orang lokal. 


Apa ada kios yang menjual barang-barang buatan Indonesia, ya? Ayo kita jalan lagi...



Potret Indonesia